Taman Nasional Tesso Nilo Memanas: Warga Tolak Serahkan Lahan, Ancaman Banjir di Sumatra Makin Nyata
Taman Nasional Tesso Nilo Memanas: Warga Tolak Serahkan Lahan, Ancaman Banjir di Sumatra Makin Nyata
Kabar Gumanti TV
gumantitv.online — Riau. Situasi di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) kembali memanas. Sejumlah kelompok warga yang bermukim dan menggarap lahan di dalam kawasan konservasi menolak menyerahkan kembali lahan yang mereka klaim sebagai sumber kehidupan. Pemerintah menegaskan kawasan tersebut adalah zona konservasi resmi negara, namun tarik-menarik kepentingan terus berlangsung di lapangan.Sementara itu, para pemerhati lingkungan mengingatkan bahwa penolakan pengembalian kawasan hutan—ditambah maraknya perambahan dan alih fungsi lahan—dapat memperburuk ancaman banjir besar lintas provinsi di Sumatra.
Kawasan Kritis yang Harus Dilindungi
Taman Nasional Tesso Nilo adalah salah satu benteng terakhir hutan hujan tropis dataran rendah di Sumatra. Lokasinya berada di Kabupaten Pelalawan, Riau, dan menjadi rumah bagi:
- Setidaknya 360 jenis flora
- 107 spesies burung
- 50 jenis ikan
- 23 jenis mamalia
- 18 jenis amfibi
- 15 jenis reptil
- 3 jenis primata
- Populasi gajah Sumatra sebanyak 60–80 ekor
TNTN pertama kali ditetapkan pada 2004 seluas 38.576 hektare, kemudian diperluas pada 2009 menjadi 83.068 hektare. Jika dihitung dengan keseluruhan ekosistem penyangga di sekitarnya, bentang alam Tesso Nilo mencakup 568.700 hektare.
Penetapan taman nasional ini kembali diperkuat melalui SK Menteri Kehutanan Nomor 788/Menhut-II/2012.
Perambahan, Konsesi, dan Konflik Berkepanjangan
Masalah utama Tesso Nilo sejak bertahun-tahun adalah perpindahan hak konsesi dan maraknya perambahan. Sejumlah perusahaan perkebunan yang keluar atau melepas aset membuka ruang bagi masuknya pihak-pihak yang menggarap lahan secara ilegal.
Data lapangan menunjukkan ribuan hektare telah berubah menjadi kebun sawit, menyebabkan habitat gajah semakin tertekan dan menimbulkan konflik satwa–manusia yang meningkat tiap tahun.
Konflik terbaru dipicu oleh rencana penertiban lahan oleh pemerintah. Sebagian warga menolak, mengaku telah tinggal dan berkebun lebih dari satu dekade. Pemerintah menyatakan bahwa aktivitas tersebut berada di dalam kawasan konservasi yang dilindungi undang-undang.
Ancaman Banjir Besar: “Satu Sumatra Bisa Kena Dampaknya”
Aktivis lingkungan memperingatkan bahwa degradasi hutan di Tesso Nilo akan berdampak luas pada hidrologi Sumatra. Dengan hilangnya tutupan hutan, air hujan tidak lagi terserap dan berpotensi memicu banjir besar di wilayah hilir.
“Kerusakan di TNTN bukan hanya masalah Riau. Sistem aliran airnya terhubung ke banyak daerah. Kalau hutan ini habis, Sumatra bisa menghadapi banjir besar serentak,” ujar seorang peneliti hidrologi yang ditemui Gumanti TV di lokasi.
Pemerintah Diminta Tegas dan Transparan
Pengamat menilai pemerintah harus:
- Menegakkan aturan kawasan konservasi tanpa tebang pilih,
- Memastikan relokasi yang manusiawi bagi warga yang benar-benar tidak memiliki alternatif,
- Mengungkap pihak-pihak yang memberi ruang bagi perambahan melalui jual beli lahan ilegal,
- Melakukan restorasi ekosistem secara cepat dan terukur.
Selain itu, publik berharap Satgas Penertiban Kawasan benar-benar menindak aktor besar, bukan hanya masyarakat kecil di lapangan.
Komentar
Posting Komentar